HUBUNGAN TUHAN DENGAN MAHLUK

Apa Hubungan Tuhan Dengan Ciptaanya?
Tentang hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya. Meski ciptaannya selalu berubah atau “menjadi” (dumadi), Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaanNYA. Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan: Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu. Artinya, Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah. Sama dengan pengertian wyapi, wyapaka dan nirwikara dalam agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan pun disimbolkan sebagai bunga “teratai” atau “sekar tunjung”, yang tidak pernah basah dan kotor meski bertempat di air keruh. Ceritera tentang Bima bertemu dengan “Hanoman”, kera putih lambang kesucian batin, dalam usahanya mencari “tunjung biru” atau “teratai biru’ adalah sehubungan dengan pencarian Tuhan. Menyatunya Tuhan dengan ciptaanNYA secara simbolis juga dikatakan “kaya kodhok ngemuli leng, kaya kodhok kinemulan ing leng”, seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak terselimuti liangnya. Pengertiannya sama dengan istilah immanen sekaligus transenden dalam filsafat modern, yang dalam Bhagavad Gita dikatakan “DIA ada padaKU dan AKU ada padaNYA”.

Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaannya pun menjadi tak terukur lagi. Tentang hal ini orang Jawa mengatakan: “adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”, artinya jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya filsafat Jawa adalah Hinduisme, yang monotheisme pantheistis. Karena itu pengertian Brahman Atman Aikyam, atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga dinyatakan dengan kata-kata “Gusti lan kawula iku tunggal”. Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedang Kawula adalah Atman yang juga disebut Sira, hingga kalimat “Tat Twam Asi” pun secara tepat dijawakan dengan kata kata “Sira Iku Ingsun” atau “Engkau adalah Aku”, yang artinya sama dengan kata-kata “Atman itu Brahman”. Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata “ya ngono ning ora ngono”, yang artinya “ya begitu tetapi tidak seperti itu”. Mungkin sikap demikian inilah yang menyebabkan sesekali muncul anggapan bahwa pada dasarnya orang Jawa penganut pantheisme yang polytheistis, sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaannya ditafsirkan sebagai Tuhan berada di apa saja dan siapa saja, hingga apa saja dan siapa saja bisa diTuhankan. Anggapan demikian tentulah salah, sebab Brahman bukan Atman dan Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu. Brahman adalah sumber energi, sedang Atman cahayanya. Kesatuan antara Krisna dan Arjuna oleh para dalang wayang sering digambarkan seperti “api dan cahayanya”, yang dalam bahasa Jawa “kaya geni lan urube”.

Selengkapnya - HUBUNGAN TUHAN DENGAN MAHLUK

PENCARI TUHAN

.Bagaimana Mencari Tuhan?
Berdasar pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaanNYA itu, maka orang Jawa pun tergoda untuk mencari dan membuktikan keberadaan Tuhan. Mereka menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan sistim simbol untuk memudahkan pemahaman. Sebagai contoh pada sebuah kidung dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut: Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake kuntul nglayang lan gigiring panglu, dst. Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang), gigir panglu (pinggir dari globe), wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” yang dalam bahasa Jawa “ tan kena kinaya ngapa” yang pengertiannya sama dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.

Pada dasarnya proses penyatuan (meditasi) itu dimaksudkan sebagai usaha memperpendek jarak antara Manusia dengan Tuhan, antara Sira dengan Ingsun, atau antara Brahman dengan Atman, yang dalam istilah Jawa disebut ngudi cinaket ing Widhi, artinya berusaha agar semakin dekat dengan Tuhan (caket=dekat). Di sini jelas bahwa pemanfaatan energi Atman mutlak perlu, tetapi ternyata sebagian orang ada yang tidak mengetahui bahwa pada diri kita ada Atman, Sang Maha Energi itu. Mungkin karena dasar filsafatnya memang berbeda. Kepada mereka, yang tidak mempercayai adanya Atman itu, sebuah kidung sengaja diciptakan Apek banyu pikulane warih, apek geni dedamaran, kodhok ngemuli elenge, tanpa suku lumaku, tanpa una lan tanpa uni, dst. Artinya terlihat ada orang mencari air, padahal ia telah memakai air sebagai pikulan, dan ada yang mencari api, padahal telah membawa lentera, katak menyelimuti liangnya, tanpa kaki ia berjalan, tanpa rasa dan tanpa suara, dst. Rupanya mereka tidak mengerti bahwa Gusti dan Kawula Tunggal, hingga tidak menyadari bahwa yang dicari sebenarnya telah ada dalam dirinya sendiri, meski dengan nama yang berbeda.
Selengkapnya - PENCARI TUHAN

NABI PALSU

Nabi Palsu Sengaja Dibuat Untuk Menghilangkan Trust Ummat Kepada Nabi Muhammad SAW

Agama Islam kuat karena punya sosok manusia yang paling mulia dan paling agung, pribadi yang menjadi panutan dalam semua dimensi kehidupan, yang memiliki sifat yang sangat istimewa, shidddiq (integritas) , amanah (tanggung jawab), Fathanah (profesional) , Tabligh (kepemimpinan) , itqon dan istiqomah (integritas) . Tidak pernah ada celah dusta dalam kehidupannya, walaupun anda menggalinya sampai ujung langit, karena jika ada setitik saja dusta dalam kehidupannya, maka Islam tidak akan pernah sampai ke pelosok negeri. Islam akan musnah di tengah kehidupan orang Arab dan kaum yahudi yang sangat peka dan ambisius untuk mencari kesalahan Rasulullah. Jika di zaman modern ini, masih ada yang mencari kesalahan Rasulullah, maka sebenarnya sudah ketinggalan zaman dan menunjukan mereka lebih bodoh dari kehidupan Arab Baduy yang tidak baca dan tidak bisa menulis dengan moral paling bejat sejagat raya.

Dengan hadirnya Muhammad SAW, maka kita memiliki kita suci Al-Qur'an yang penuh dengan kebenaran dan kebaikan. Kitab suci yang menjadi pedoman sejak 14 abad, kalimatnya dan hurufnya tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah tertandingi, tidak pernah butuh revisi, tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia. Yang Justru semakin canggihnya ilmu pengetahuan dan semakin cerdasnya masyarakat, maka semakin terungkap tabir kebenaran yang mungkin belum pernah terfikirkan sebelumnya oleh manusia. Munculnya isu Islamic Terorism, Islam Fondamentalis, adanya nabi palsu, ayat-ayat palsu, ajaran Islam palsu, yang sengaja dibuat orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menghilangkan trust terhadap sosok Muhammad SAW, adalah bagian dari tantangan kita, yang sudah ada sejak nabi Adam. Kita harus semakin yakin bahwa propaganda mereka tidak akan pernah merubah, mengurangi atau menghilangkan kebenaran al-Qur'an, karena Allah yang akan menjaganya. Mereka musuh Allah, menginginkan suatu hari setiap gang, setiap RT dan RW muncul nabi-nabi palsu dan aliran-aliran palsu. Anda jangan pernah terjebak dengan makar mereka, karena mereka sangat licik dan pandai berdusta, maka anda seharusnya lebih bersemangat untuk belajar, supaya lebih pandai dan lebih cerdas dari mereka.
Selengkapnya - NABI PALSU

SANG PENYELAMAT ( IMAM MAHDI )

Imam Mahdi Akhir Zaman

Dikalangan umat Islam, telah banyak yang berbicara dan membahas fenomena kemunculan Imam Mahdi akhir zaman menurut versinya masing-masing bahkan ada diantaranya yang mengaku sebagai Imam Mahdi. Bahwa ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan keberadaan dan kemunculan Imam Mahdi akhir zaman, diantaranya :

1. Imam Mahdi adalah Imam yang ditunjuk dan ditetapkan Allah 'Azza waJalla, senantiasa memperoleh petunjuk-Nya dan (Imam) yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Allah Allah 'Azza wa Jalla. Keberadaan dan kemunculannya atas Kehendak dan Ketetapan Allah semata-mata.

2. Kemunculan dan keberadaannya (Imam Mahdi) dengan membawa risalah kenabian Nabi Muhammad SAW (ilmu Nubuwwah, ilmunya semua para Nabi-Nya Allah,Rasul-Rasul-Nya, para Wali kekasih-Nya) untuk menjaga lestarinya ajaran Allah SWT tentang al-Kitab,al-Hikmah dan al-Nubuwwah.

3. Tugas pokok Imam Mahdi ialah mengembalikan Hak Allah SWT dan hak-hak Rasul-Nya Nabi Muhammad SAW dengan risalah Nubuwwah Nabi Muhammad SAW.

4. Imam Mahdi akhir zaman (al-Qa'im al Mahdi) adalah dari zuriat keturunan Nabi Muhammad SAW melalui sulbinya 'Ali (Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib) sebagaimana ungkapan Nabi Muhammad SAW : " Wahai umat manusia ! Sungguh, zuriat setiap nabi berasal dari tulang sulbinya, tetapi zuriat keturunanku adalah berasal dari sulbi 'Ali. - Aku adalah akhir dan penutup seluruh Nabi dan Rasul, Aku adalah bukti Allah (hujjah) bagi segenap makhluk-Nya, dilangit dan di bumi.

@ Wahai manusia ! Telah mengalir dalam jiwaku ini cahaya dari sisi Allah. Kemudian mengalir juga kedalam (dada) 'Ali, dan berikutnya kedalam zuriat keturunannya sehinggalah ke (Imam) al-Qa'im al-Mahdi yang akan mengembalikan hak Allah dan seluruh hal-hak kami ke tempatnya semula". Jelaslah bahwa zuriat keturunan nabi Muhammad SAW bukan pada turunan darah daging (bukan faktor utama dalam ke-ilahian) tetapi terutama (substansial) terletak pada keberadaan hakekat kenabiannya yaitu Nur-Nya yang mengalir dalam jiwanya, dalam bahasa tasawufnya adalah haqiqatul Muhammadiyah atau Nur Muhammad pada Martabat Wahdat (Martabat Tujuh dalam kitab Al Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi, ditulis oleh Syech Fadlullah).

5. Kemunculan Imam Mahdi akhir zaman (al-Qa'im al-Mahdi) secara nyata (de Jure), terbuka, setelah terjadinya "sunnatul awwalin" kehancuran yang Mahadahsyat melenyapkan yang batal dengan Kun Fayakun-Nya, sebagaimana di firmankan Allah SWT dalam QS.35:42-42, QS.27:82.

6. Bahwa kemunculan dan keberadaan Imam Mahdi akhir zaman dan risalah ajaran (ilmu) yang dibawanya terdapat/tertulis dalam manuskrip-manuskrip para wali di tanah Jawa (walisongo) yang terjaga keasliannya oleh para ahli waris penerima wasiat secara turun temurun. Pada saat ini mulai terungkap / dikumpulkan dan ternyata hanya orang tertentu yang dapat mengungkap dan menjelaskan makna tulisan dalam manuskrip-manuskrip tersebut, yaitu mereka yang mempunyai ilmu (ma'rifat billah) yang hak dan sah, sesuai wasiat didalamnya (hanya murid ilmu ma'rifat billah, ilmu Syathoriyah, yang berhak mengungkap tulisan manuskripnya).

7. Dalam lingkungan orang-orang (jama'ah) yang menjadi murid ilmu ma'rifat billah yang hak dan sah, menyatakan bahwa pada saat ini zaman telah memasuki zaman Imam Mahdi, hanya masih bersifat sirri (spiritual), sedangkan tampilnya / munculnya Imam Mahdi (al-Qa'im al-Mahdi) secara terbuka (dhahiri) semata-mata atas Kehendak Allah SWT setelah terjadi kehancuran dahsyat melenyapkan yang batal dan perobahan dunia dan alam semesta yang dahsyat oleh Kun Fayakun-Nya Allah SWT.
Terakhir Nabi Muhammad SAW dalam Terjemahan lengkap Khotbah Nabi SAW di Ghadir Khum 18 Dzulhijah 10 H , diterbitkan oleh Pustaka Pelita, Bandung (diterjemahkan dari kitab Payam Ghadir), serta berita sekitar kehadiran zaman Imam Mahdi di lingkungan para ahli ilmu ma'rifat billah (murid) di tanah Jawa. Perlu diketahui pula bahwa tulisan tentang martabat tujuh pada zaman kewalian di tanah Jawa digunakan sebagai salah satu alat dalam mengontrol pemahaman ilmu tauhid yang dikembangkan/disyi'arkan oleh para wali di tanah Jawa dan terdapat dalam teks manuskrip mereka.
Selengkapnya - SANG PENYELAMAT ( IMAM MAHDI )

WASIAT RONGGO WARSITO




Memaparkan ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , yaitu : Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, Satrio Jinumput Sumelo Atur, Satrio Lelono Topo Ngrame, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu. Berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :

  1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO. Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.
  2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR. Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.
  3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR. Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.
  4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME. Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.
  5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH. Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.
  6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO. Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.
  7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU. Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Allah SWT (Sinisihan Wahyu). Dengan selalu bersandar hanya kepada Allah SWT, Insya Allah, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.
Selengkapnya - WASIAT RONGGO WARSITO

KONSOLIDASI ALAM AKIBAT MANUSIA


Bencana demi bencana yang terjadi di bumi pertiwi ini sesungguhnya merupakan tanda peringatan keras Allah kepada bangsa ini yang secara khusus tertuju kepada elite pimpinan nasional baik ulama maupun umaro’nya. Untuk tidak mencari kambing hitam dari segala peristiwa yang terjadi, maka kita semua memahami akan dalil di dalam manajemen perusahaan (leadership) bahwa : ”Tidak ada bawahan yang salah. Yang ada adalah pimpinan yang salah.” Begitu pula dalam konteks negara sebagai sebuah perusahaan : ”Tidak ada rakyat yang salah, melainkan pemimpinnyalah yang salah.”Untuk memahami tulisan ini dibutuhkan perenungan yang mendalam. Diawali dengan pemahaman bahwa di dalam hakekat kehidupan ini ”tidak ada yang namanya ‘Kebetulan’.” ‘Kebetulan’ yang terjadi hakekatnya adalah ketetapan yang telah ditetapkan-Nya. Manusia dengan akalnya yang terbatas hanya bisa saling berkomentar dan beranalisis dengan berbagai macam teori ilmu pengetahuan tentang suatu kejadian setelah kejadian itu terjadi. Sebuah bukti bahwa akal (penalaran) dan ilmu pengetahuan adalah nisbi. Menghadapi bencana yang terjadi, manusia tidak akan mampu mencegahnya melainkan hanya mampu menangani akibat-akibatnya. Sangatlah tidak arif dan bijak apabila setiap bencana yang terjadi ditanggapi dengan statement : ”Itu bukan kutukan dari Allah dan bisa dijelaskan secara ilmiah, serta janganlah dihubung-hubungkan dengan takhayul.” Pernyataan ini menggambarkan arogansi penalaran (berpikir ala barat) yang semakin menjauhkan diri dari Sang Khalik, dan akan selalu menjadi bumerang bagi kehidupan bangsa ini.Dengan merenung dan berpikir kita akan menjadi mawas diri. Terlalu mengandalkan akal bisa menjadikan kita sesat dan ingkar. Lahir dan batin harus menyatu. Mari kita renungkan bersama ayat-ayat berikut ini :

”Katakanlah : ”Kabarkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kamu serta menutup hati kamu? Siapakah Tuhan selain Allah yang mengembalikannya kepadamu?” Perhatikan bagaimana Kami memperlihatkan tanda-tanda kemudian mereka tetap berpaling.” (QS 6 : 46)
”Aku akan memalingkan daripada ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabur di muka bumi tanpa alasan yang benar. Dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka lalai daripadanya.” (QS 7 : 146)

Apakah selama ini kita pernah berpikir dan merenung mencari jawab atas bencana yang terjadi ? Mengapa tsunami yang banyak memakan korban jiwa (setara dengan korban bom atom Hiroshima – Nagasaki) harus terjadi di bumi Aceh (serambi Mekah)? Mengapa sampai saat ini kita masih dipusingkan dengan Flu Burung yang mewabah dan belum diketemukan obatnya ? Mengapa di saat yang lain terjadi KKN (kasus kesurupan nasional) di berbagai kota yang terjadi secara spontan dan beruntun di tempat-tempat pendidikan dan pabrik rokok ? Mengapa Merapi harus memuntahkan laharnya dan sempat membingungkan kita semua ? Mengapa gempa yang meluluhlantakkan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa terjadi di Yogyakarta ? Mengapa terjadi bencana lumpur panas mengandung gas di Sidoarjo yang sampai saat ini belum bisa teratasi ? Dan deretan pertanyaan mengapa-mengapa yang lain. Rasa-rasanya satu bencana belum tuntas teratasi, muncul bencana-bencana yang lain. Apakah dengan rangkaian kejadian-kejadian itu masih tetap mengeraskan hati kita untuk tetap berdiri di atas arogansi akal ilmiah kita ? Terlebih lagi di saat kondisi sosial ekonomi negara ini sudah semakin terpuruk dan memburuk.

Dilihat dari perspektif spiritual, hakekat segala apa yang terjadi merupakan refleksi atau pantulan cermin dari bangsa ini yang diwakili oleh pemimpin bangsanya. Secara singkat dapatlah diurai hakekat dari bencana-bencana besar yang terjadi di bumi Nusantara ini. Tsunami Aceh yang telah memakan korban jiwa terbesar di bumi dimana telah diimplementasikan syariat Islam ini merupakan awal peringatan yang sangat keras, yang menyiratkan telah terjadi ”Pelanggaran Aqidah” pada bangsa ini. Fenomena kerasukan jin/setan merupakan gambaran apa yang terjadi pada bangsa ini. Setan-setan korupsi, kekuasaan, keserakahan, kriminal, dan lainnya telah merasuk pada sebagian besar anak negeri. Korban yang rata-rata perempuan melambangkan bahwa Ibu Pertiwi sedang marah, menjerit, menangis dan meronta menyaksikan apa yang terjadi pada bangsa ini. Ibu-ibu rumah tangga se-antero nusantara pun merasakan hal yang sama menghadapi tekanan sosial dan ekonomi saat ini. Tempat pendidikan melambangkan sindiran kepada kaum terdidik yang selalu mendewakan akal. Pabrik rokok ibarat kerajaan yang mengolah hasil bumi tembakau menjadi rokok sebagai komoditi terlaris melambangkan kejayaan yang berdiri di atas penderitaan buruh atau rakyat kecil. Rahmat Allah tidak dibagikan secara adil bagi kesejahteraan rakyat. Nampaknya, kita memang kurang bersyukur atas limpahan rahmat yang telah diberikan-Nya.
Aura panas ”wedhus gembel” tengah menyelimuti bangsa ini yang ditunjukkan dengan episode-episode ketidakpuasan yang menyulut emosi rakyat dalam berbagai konflik kepentingan. Potret ini dilambangkan dengan muntahnya lahar panas gunung Merapi. Sementara Merapi masih terus mengancam, secara sontak Yogyakarta sebagai simbol pusat budaya Kerajaan Mataram digoyang gempa yang meluluhlantakkan ribuan pemukiman dan banyak memakan korban jiwa. Secara hakekat peristiwa gempa Yogyakarta yang menghancurkan Bangsal Traju Emas (ruang penyimpanan pusaka keraton) dan Taman Sari (pemandian dan tempat pertemuan Raja dengan Kanjeng Ratu Kidul) menyiratkan memudarnya aura kerajaan sebagai simbol pemerintahan negeri ini.

Ketika bangsa ini masih disibukkan dalam mengatasi korban gempa Yogyakarta, kesibukan dan kepanikan baru muncul sebagai dampak meluapnya lumpur panas bercampur gas di Sidoarjo Jatim yang hingga kini belum dapat teratasi. Lepas dari kesalahan apa dan siapa penyebab kebocoran dalam eksplorasi sumber gas tersebut, bencana lumpur panas mengandung gas ini melambangkan kekotoran moral elite pemimpin bangsa ini yang membawa aura panas dan bau menyengat. Situasi ini berakibat rakyat kecil selalu menjadi korban.
Hubungan antara manusia dengan alam senantiasa berubah, seiring perkembangan teknologi, informasi, dan industrialisasi. Suku-suku di pedalaman, bahkan sampai saat ini masih melak¬sanakan ritual-ritual tertentu untuk bersahabat dengan alam. Mereka, mengambil kayu atau hasil bumi secukupnya. Alam tidak dieksploitasi sekehendak hatinya. Walaupun suku-suku primitif tersebut belum tersentuh ajaran agama formal, mereka telah memiliki kesadaran religius yang baik. Mereka mampu mengembangkan nalurinya bahwa merusak pohon atau membunuh binatang sembarangan akan mendatangkan bencana.
Bung Karno pernah menulis, mengingatkan kita pada sebuah seloka dari Ramayana karya pujangga Valmiki, mengenai cinta dan bakti kepada Janani Janmabhumi – yaitu agar setiap orang mencintai Tanah Airnya seperti ia mencintai ibu kandungnya sendiri. Dan cinta Bung Karno terhadap kosmos itu diawali dari Bumi tempat kakinya berpijak, bumi pertiwi Indonesia yang disapanya dengan takjub dan hormat sebagai ”Ibu.” Pancaran cinta dan kasih sayang yang murni akan dapat membuka pintu rahmat-Nya. Mencintai sesama berarti mencintai Tuhan, bahkan mencintai alam berarti mencintai Sang Pencipta.

Insya Allah dengan limpahan kasih sayang anak negeri ini akan membuat Ibu Pertiwi tersenyum sumringah. ”Ya Allah, jauhkan kami anak negeri ini dari seburuk-buruk makhluk-Mu sebagaimana firman-Mu :
”Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang lalai” (Qs 7:179)
Dengan ijin dan ridho Allah SWT, menjadi tugas kita di masa depan mewujudkan Indonesia Raya sebagai ”Negara Kaya Rahmat Ilahi” (NKRI) demi kesejahteraan seluruh rakyatnya. Insya Allah, dengan pendekatan spiritual murni segala kejadian yang terjadi di bumi Nusantara ini dapat diketahui jawaban dan solusinya. ”Sakbeja-bejane kang lali, luwih beja kang eling lawan waspada”
Selengkapnya - KONSOLIDASI ALAM AKIBAT MANUSIA

TUHAN JUGA MEMPUNYAI BATAS KESABARAN


Hidupnya manusia di dunia ini tidak hanya ratusan tahun bahkan telah ribuan tahun lamanya ngobral kefasikan.Fasik adalah perbuatan terkutuk dihadapan Allah. Betapa tidak, bernafaspun manusia ini tidak bisa apalagi hingga berdaya dan bertenaga kalau tidak dengan Tuhan. Namun mana dan berapa gelintir yang berkehendak mengenali DiriNya Zat Yang Wajib Wujudnya, Zat Yang AL-Ghaib yang nyata-nyata dekat sekali keberadaanNya? Lalu mendzikiriNya. Lalu dijadikan tujuan hidup untuk didekati hingga selamat bertemu lagi dengan DiriNya? Yang terjadi justru memperalat DiriNya Ilahi untuk memenuhi kepentingan-kepentingannya berdunia dengan nafsunya dan watak akunya. Hingga Al Quran yang 30 juz jumlahnya dan tidak ada keraguan perihal kebenaran Ada dan Wujud DiriNya Yang Mutlak, hidayah bagi muttaqien, telah tidak diyakini lagi. Sebabnya tidak lain karena harus memenuhi iman kepada AL-Ghaib.

Satu-SatuNya Zat Yang Gaib, Allah AsmaNya, jelas dan nyata sangat mudah serta sangat indah untuk diingat-ingat dan dihayati dalam rasa hati karena saking dekatnya., telah didustakan dan diingkari. Karena untuk sampai seperti itu harus bertanya kepada ahlinya.Hanya karena kini telah tiba saatnya Qudratullah dengan Kun FayakunNya, memunculkan Al-HaqNya (Kebenaran Ada dan Wujud DiriNya hingga kental dalam rasa jiwa=sejati=yang diseja (dituju) oleh hatinurani, maka tulisan ini diturunkan.Sedang Dabbah sebagaimana yang dimaksud oleh firmanNya sebenarnya adalah kekasihNya yang karena keberadaannya selalu didustakan, ajarannya dianggap mengada-ada., bahkan layak untuk difitnah dan dihabisi sampai keakar-akarnya, dimisalkan olehNya bagai sejenis binatang melata. Dia sendiri, si Dabbah ini, hidup sehari-harinya memang selalu melata di dalam bumiNya memenuhi seruan Tuhannya supaya wasjud waqtarib. Yaitu selalu berjihadunnafsi supaya secara utuh mengikut jejak para Malaikatul muqorrobin yang rela berlaku sujud (=makna patuh dan tunduk kal-mayyiti) kepada wakilNya Tuhan di muka bumi. Yakni wakil yang secara persis dan yakin tahu dan kenal pada DiriNya Sang Muwakkal hingga hatinurani roh dan rasanya juga selalu berada pada DiriNya Zat Yang meski AL-Ghaib, dirasakan sangat dekat sekali.Bahkan hanya DiriNyalah Satu-satuNya yang dirasa Wujud dan Yang dirasa Ada adalah wakilNya Allah di bumi sebagai ahli dzikir dan al-Haadi (Sang penunjuk) terhadap adanya ilmu untuk mengenal dan mengetahui Keberadaan DiriNya Zat Yang Al-Ghaib serta jalan lurus hingga dengan selamat dan bahagia bertemu lagi dengaNya.

Dabbah yang hamba kekasihNya ini adalah ahli al kurub. Ahli prihatin. Setiap hari hidupnya selalu mengadili dirinya sendiri supaya tidak mudah ditipu oleh nafsunya. Apalagi hingga diperintah dan dijajah. Waqtaribnya, cita-cita mendekatnya diri kepada Ilahi hingga sampai, menyadarkan sebagai hamba yang al-faqir. Karena rasa taubatnya sebagaimana tangis taubatnya Nabi Yunus: “Laa ilaaha illa Anta Subhaanaka inni kuntu minadzdzalimin”. Yakni apa saja, termasuk wujud jiwa raganya telah benar-benar diperjuangkan (jihadunnafsi dengan harta, jiwa, tenaga dan pikiran-pikirannya) supaya benar-benar nafi. Benar-benar nyata tidak ada (=makna laailaaha) hingga sama sekali tidak akan menjadi hijab terhadap penglihatan mata hatinya terhadap yang selalu ditetapkan dalam rasa hatinya (=makna illallah=illa Anta=illaAna). Yaitu DiriNya Zat Yang Allah AsmaNya. Dan pengakuan ini sebagai hamba yang paling zalim, paling apes, paling hina, tidak bisa apa-apa, tidak tahu apa-apa, tidak punya apa-apa, akan selalu membangkitkannya untuk deple-deple kepadaNya, berpasrah diri kepadaNya, ngandul (bergantung) kepadaNya dan mepet (selalu lengket) dengan DiriNya.
Selengkapnya - TUHAN JUGA MEMPUNYAI BATAS KESABARAN

KEBENARAN SEJATI





MENGUNGKAP KEBENARAN YANG SEJATI MURNI DAN DABBAH YANG DIBERDAYAKAN BERKATA ADALAH PELAKU SATRIYA PININGIT DAN RATU GINAIB.

Adalah firman Allah dalam QS.An Naml ayat 82 yang mengandung maksud sebagaimana judul tulisan di atas.“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan Dabbah dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.Maksud perkataan telah jatuh atas mereka adalah turunnya azab yang menghancurkan sehancur-hancurnya atas hidup manusia yang mengobral kefasikan.“Karena sesungguhnya mereka adalah kaum fasik. Maka tatkala mereka membuat Kami murka (karena hidupnya selalu mengobral kefasikannya), Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya”. (QS. Az Zukhruf: 54-55).
Selengkapnya - KEBENARAN SEJATI